Bank Syariah
304 views

Tantangan Dalam Meningkatkan Pasar Ekonomi Syariah Di Masyarakat

by on 06/10/2017
 

Pangsa pasar perbankan syariah masih jauh dibanding perbankan konvensional. Faktor minimnya edukasi kepada masyarakat akan pentingnya mensyariahkan perbankan, sehingga menuntut perbankan syariah memiliki produk yang menarik.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso mengatakan, substansinya industri keuangan syariah mampu bersaing dengan konvensional dalam hal pembaruan produk. Selain itu juga dituntut agresif mengadaptasi perkembangan teknologi dalam produk dan jasa keuangannya.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso menjelaskan besarnya tantangan untuk meningkatkan pangsa pasar perbankan syariah agar tidak selalu berada di “jebakan” lima persen adalah hal yang sangat mudah. Bahkan pangsa pasar perbankan syariah bisa mencapai 20 persen dalam beberapa tahun ke depan.

“Tantangan utamanya bisa memberikan nilai tambah kepada masyarakat. Masyarakat sejatinya haus akan produk-produk keuangan yang bisa membantu kebutuhan sehari-hari mereka,” ujarnya dalam diskusi bertema “Industri Syariah dan Pemerataan Ekonomi” di Wisma Antara, Jakarta, Kamis (05/10/2017).

Dia memaparkan tantangan yang harus dijawab antara lain, dukungan modal masih relatif terbatas, human capital issues, produk syariah inovatif yang berdaya saing dan sesuai kebutuhan masyarakat, model bisnis infrastruktur dan prosedur, penyediaan saluran distribusi yang efektif dan efisien, masih rendahnya letirasi keuangan syariah, dan goverment support.

Diketahui baru pada 2016, pangsa pasar perbankan syariah dapat mencapai lima persen, setelah dalam beberapa tahun sebelumnya selalu berada di bawah lima persen. Saat ini pangsa perbankan syariah berada di 5,32 persen.

Wimboh mengatakan lebih baik industri keuangan syariah memikirikan upaya untuk meningkatkan kontribusinya terhadap pemerataan perekonomian. Beberapa upayanya adalah dengan meningkatkan pembiayaan untuk segmen mikro.

Menurutnya, boleh saja perbankan syariah juga menyalurkan pembiayaan ke segmen korporasi seperti infrastruktur, tetapi harus terukur dan tidak berlebihan. Sedangkan untuk konsumer, kata dia, risikonya terlalu besar dan berpotensi meningkatkan rasio pembiayaan bermasalah (Non-Perfroming Financing/NPF).

“Lebih baik fokus ke mikro, perluas jaringan ke daerah dan juga kembangkan semua produk dan jasa keuangan,” ujar dia.

Saat ini, dengan pangsa pasar 5,32 persen, aset perbankan syariah sebesar Rp380 triliun, dengan jumlah 13 bank umum syariah, 21 unit usaha syariah di bank dan 167 bank pembiayaan rakyat syariah.

“Setidaknya industri keuangan syariah harus menjawab semua tantangan ini. Utamanya fokus bagaimana mendorong masyarakat untuk mengadaptasi seluruh aspek keuangan syariah, tidak hanya berkutat pada statistik,” imbaunya.

Karenanya, Wimboh menilai, produk keuangan syariah perlu memprioritaskan masyarakat kecil dan bisa menjangkau daerah-daerah terpencil. Terlebih karena jumlahnya yang banyak.

Menurutnya, segmen usaha kecil atau mikro juga justru tahan terhadap goncangan ekonomi.

“OJK akan bekerja sama dan membuka diri dengan masyarakat syariah untuk masuk ke masyarakat kecil,” ungkapnya.

Hanya saja, lanjutnya, industri syariah harus mempunyai program yang terintegrasi dan berkesinambungan. Serta dengan memanfaatkan teknologi.“Syariah juga harus bisa berkompetisi melalui itu,” ucapnya.

Be the first to comment!
 
Leave a reply »

 

You must log in to post a comment