Bank Syariah
1334 views

Tak Ada Bank Syariah yang 100% Syariah

by on 16/12/2015
 

Sama halnya dengan, tak ada manusia yang tak pernah berbuat kesalahan  dalam hidupnya, pun dengan bank syariah. Kalau begitu, masih layakkah kita pilih?

Lagi, ini liputan iB Blogger Meet Up 2015. Deputi Direktur Pengembangan Produk dan Edukasi Departemen Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (PPE DPbS OJK) Dr. Setiawan Budi Utomo menilai, manusia tidak luput dari kesalahan, hal mana juga terjadi pada bank syariah. Namun bukan berarti lantas tidak  usah dipilih bank syariah itu. 

“Tidak ada bank syariah yang seratus persen syariah. Sama halnya saya katakan bahwa tidak ada dosanya manusia itu. Artinya kesalahan itu pasti ada”, kata Setiawan mencoba menjawab pertanyaan dari penanya, Bahtiar H. Suhesta dari Surabaya.

Pak Setiawan Budi Utomo (SBU), "Jangan ketukar antara simpanan dan simpenan...:D". Foto: MySharing

Pak Setiawan Budi Utomo (SBU), “Jangan ketukar antara simpanan dan simpenan…:D”. Foto: MySharing

Tidak seratus persen benar syariah itu diilustrasikan oleh Setiawan seperti perbandingan segelas penuh dengan minuman keras dan segelas air yang ditetesi minuman keras sedikit. Nah, Setiawan bertanya, “Mana yang sebaiknya kita pilih? Yang pertama atau kedua? Yang kedua menurut saya”, kata Setiawan.

Setiawan memahami pertanyaan-pertanyaan yang berkembang di masyarakat terkait bank syariah adalah karena masyarakat belum paham. Misalnya:

Persentase = Bunga
Pertama, mengenai pemakaian persentase di bank syariah. Memang, bukan hanya bank konvensional yang memakai persentase, bank syariah juga. Yang namanya persentase itu juga diajarkan dalam syariah, yaitu zakat 2,5 persen dari penghasilan. Persentase itu hanya masalah perhitungan saja, dalam kasus bank syariah, berapa margin keuntungannya yang mudah dipahami masyarakat.

Kedua, kok masih ada denda di bank syariah, terkait pembiayaan bermasalah misalnya.  Denda di bank syariah itu boleh, ada fatwanya. Ada dua macam, yaitu denda setiap keterlambatan pembayaran, akan didenda 0,00 persen. Uang dari denda ini akan masuk ke dana sosial tidak boleh diakui sebagai pendapatan bank. Kedua, denda terkait ganti rugi. Ini bank harus mengirim orang  untuk mengumpulkan kewajiban nasabah. Terkait masalah denda ini, menurut Setiawan, “Dalam hadistnya juga ada bahwa menunda-nunda pembayaran bagi yang mampu adalah kezaliman, maka berhak dikenakan sanksi dan juga dimasukkan dalam data mereka yang tidak baik”.

Ketiga, kok bank syariah pakai agunan juga. Hal ini terkait amanah dana masyarakat yang disalurkan ke pembiayaan oleh bank syariah. Maka, nasabah pembiayaan pun harus menjaga amanah itu, yaitu dengan memberikan agunan. Lagipula, kewajiban agunan juga diatur dalam regulasi perbankan di Indonesia.

Details
 
comments
 
Leave a reply »

 
  • eka natha permana
    17/12/2015 at 21:34

    yup, saya sangat setuju. belum 100% syariah bukan berarti kita acuh tak acuh dengan bank syariah. tapi justru menjadi motivasi diri kita pribadi agar terus belajar dan mengkajinya agar perkembangan keuangan syariah semakin baik. daripada kita memilih yang sudah jelas basisnya riba. tentu ini lebih baik daripada tidak sama sekali..


You must log in to post a comment