Pasar Modal Syariah
617 views

Pasar Modal Syariah Kontributor Terbesar di Keuangan Syariah Indonesia

by on 28/04/2017
 

Aset pasar modal syariah menyumbang Rp 451,2 triliun.

Perkembangan industri keuangan syariah secara umum terus mengalami peningkatan hingga Februari 2017. Pasar Modal Syariah berkontribusi paling besar dalam aset keuangan syariah dengan nilai Rp 451,2 triliun. Jumlah tersebut terdiri dari sukuk korporasi Rp 11,75 triliun, reksa dana syariah Rp 16,2 triliun dan sukuk negara Rp 423,29 triliun.

Sementara, industri perbankan syariah menyumbang kontribusi 40 persen dengan total aset Rp 355,88 triliun. Sedangkan, asuransi syariah sebesar Rp 34,28 triliun, pembiayaan syariah sebesar Rp 37,07 triliun dan lembaga keuangan non bank syariah lainnya sebesar Rp 18,66 triliun.

Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) 1 Otoritas Jasa Keuangan Edy Setiadi mengatakan, di industri keuangan syariah Indonesia yang terbesar adalah di pasar modal syariah. “Kalau lihat perkembangannya, jumlah saham syariah per 21 April 2017 ada 348 saham, meningkat 0,29 persen. Kapitalisasinya Rp 3.408,04 triliun, meningkat 9,25 persen yoy dari Rp 3119.42 triliun,” katanya dalam konferensi pers di Gedung OJK, Jumat (28/4).

Pangsa pasar perbankan syariah kini mencapai 5,18% Click To Tweet

Mayoritas saham syariah adalah emiten di sektor perdagangan, jasa dan investasi. Sementara, untuk jumlah reksa dana syariah ada 145 buah, naik 6,62 persen yoy dari 136 reksa dana syariah. Per 21 April 2017, nilai aktiva bersihnya meningkat 18,09 persen dari 2016. Selain itu, Indonesia juga tercatat sebagai penerbit sukuk negara global terbesar di dunia.

Di sisi lain, per Februari 2017, industri perbankan syariah mencatat aset sebesar Rp 355,9 triliun, tumbuh 19,3 persen dari periode sama tahun lalu. Dengan pertumbuhan tersebut, pangsa pasar perbankan syariah kini mencapai 5,18 persen. Sementara, untuk pembiayaan tercatat sebesar Rp 252,7 triliun dan dana pihak ketiga (DPK) Rp 287,1 triliun.

Pertumbuhan yang signifikan umumnya terjadi di unit usaha syariah yang asetnya meningkat 20,14 persen, DPK 25,77 persen dan pembiayaan 19,01 persen. Sementara, aset bank umum syariah naik 18,19 persen, DPK 19,9 persen dan pembiayaan 15,07 persen. Sedangkan, BPRS mengalami pertumbuhan aset sebesar 19,14 persen, DPK 22,83 persen dan pembiayaan 17,33 persen.

Di IKNB syariah, total asetnya mencapai Rp 90 triliun per Februari 2017. Total aset tersebut terdiri dari asuransi syariah Rp 34,28 triliun, pembiayaan syariah Rp 37,07 triliun dan lembaga keuangan non bank syariah lainnya sebesar Rp 18,66 triliun. Hingga Februari 2017, market share IKNB syariah tercatat sebesar 4,62 persen.

Edy menyampaikan, di sisi dana solvabilitas asuransi syariah, dana tabarru dan rasio klaim asuransi syariah juga mengalami peningkatan. “Sementara, pertumbuhan aset di perusahaan pembiayaan syariah meningkat jauh melebihi perbankan dan IKNB syariah lainnya,” ungkapnya. Pada Februari 2017, aset pembiayaan syariah mencapai Rp 35,72 triliun, naik 45,51 persen dari periode sama tahun lalu.

Be the first to comment!
 
Leave a reply »

 

You must log in to post a comment