Bank Syariah
126 views

OJK Optimis Pangsa Pasar Perbankan Syariah Dapat Mencapai 20%

by on 06/10/2017
 

Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso menilai perbandingan pangsa pasar keuangan syariah dibanding konvensional bukan merupakan hal substansial. “Target pangsa pasar lima persen itu mudah. Mau 20 persen juga bisa,” ujarnya dalam Seminar Industri Syariah dan Pemerataan Perekonomian, Kamis, 5 Oktober 2017.

Wimboh optimistis pangsa pasar perbankan syariah dapat mencapai 20 persen dalam beberapa tahun ke depan. Namun, menurut dia, hal itu tak terlalu penting. Yang jauh lebih penting, menurut Wimboh, adalah otoritas dan pelaku industri keuangan syariah fokus mengedukasi masyarakat untuk mengadaptasi seluruh aspek keuangan syariah. “Tidak hanya berkutat pada statistik,” ucapnya.

Pernyataan Wimboh tersebut menanggapi sindiran yang selalu disuarakan terhadap industri keuangan syariah. Selama ini, industri keuangan syariah khususnya sektor perbankan yang sulit meningkatkan level pangsa pasar dari lima persen terhadap pasar perbankan nasional.Baru pada 2016, pangsa pasar perbankan syariah dapat mencapai lima persen, setelah dalam beberapa tahun sebelumnya selalu berada di bawah lima persen. Saat ini pangsa perbankan syariah berada di 5,32 persen.OJK mencatat terdapat tiga bank umum syariah, 21 unit usaha syariah di bank, dan 167 bank pembiayaan rakyat syariah.

Wimboh mengatakan lebih baik industri keuangan syariah memikirikan upaya untuk meningkatkan kontribusinya terhadap pemerataan perekonomian. Beberapa upayanya adalah dengan meningkatkan pembiayaan untuk segmen mikro.

Menurut Wimboh, boleh saja perbankan syariah juga menyalurkan pembiayaan ke segmen korporasi seperti infrastruktur, tetapi harus terukur dan tidak berlebihan. Sedangkan untuk konsumer, risikonya terlalu besar dan berpotensi meningkatkan rasio pembiayaan bermasalah (Non-Perfroming Financing/NPF). “Lebih baik fokus ke mikro, perluas jaringan ke daerah dan juga kembangkan semua produk dan jasa keuangan.”

Wimboh juga meminta industri keuangan syariah untuk mampu bersaing dengan konvensional dalam hal pembaruan produk. Industri keuangan syariah diminta untuk juga agresif mengadaptasi perkembangan teknologi dalam produk dan jasa keuangannya. “Sehingga masyarakat berminat pindah ke syariah,” ujar Mantan Komisaris Utama PT. Bank Mandiri Persero Tbk ini.

Wimboh menjelaskan, perubahan pola pikir menuju ekonomi syariah membutuhkan peran serta seluruh komponen masyarakat. Hal ini pun bisa dimulai dari tingkat terkecil, seperti anak-anak ataupun perdesaan. Wimboh membandingkan masyarakat negeri jiran Malaysia yang sudah berpola pikir ekonomi syariah.

“Kalau ekspektasi kita syariah akan tahan banting dan berkelanjutan, dengan perubahan pola pikir, kita harap itu akan tercapai,” kata Wimboh. Menurut dia, ekonomi syariah, terutama keuangan syariah, dapat memiliki target desa. Akan tetapi, yang harus ditelaah adalah kebermanfaatan bagi masyarakat.

Kalau ekonomi syariah diibaratkan bus metromini, bukan bus kelas satu, karena penumpangnya sedikit. Itu pun sebagian besarnya adalah penumpang konvensional yang dicap syariah.

Faktor lain yang penting adalah edukasi. OJK memiliki program literasi keuangan. Namun, Wimboh menyebut OJK tidak bisa sendiri mengupayakannya.”Harus bersama daerah. Diskusi masyarakat yang punya perhatian terhadap ekonomi syariah juga bagus sehingga tantangan edukasi bisa terjawab,” ujarnya.

Wimboh menambahkan, OJK juga sedang memformulasi agar keuangan syariah bisa lebih fleksibel. Sehingga produk keuangan syariah sinkron dan menarik. Produk syariah memang lebih rumit, tapi harus dipikirkan bagaimana agar kompetitif. “Maka tantangan kita bersama lainnya bagaimana keuangan syariah jadi tulang punggung ekonomi, syariah,” katanya.

Sejalan dengan Pak wimboh Pelaksana Tugas Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Non Bank  OJK Moch Ichsanuddin menjelaskan, berdasarkan survei OJK pada tahun lalu, literasi keuangan syariah baru 8,11 persen dibandingkan konvensional 29,66 persen. Begitu juga, inklusi keuangan syariah 11,06 persen sementara konvensional 67,82 persen.

OJK memahami, upaya membangun kesadaran menggunakan jasa keuangan syariah tidak mudah. Meski bertujuan jangka pandang dan nilai agama, tidak sedikit nasabah Muslim yang tetap berhitung untung dan rugi menggunakan jasa keuangan syariah.

Edukasi, menurut Ichsanuddin, akan memengaruhi sisi permintaan. Berbagai media sosialisasi edukasi bisa dipakai, termasuk forum-forum informal seperti kopi darat. Di sisi pasokan, OJK juga mendorong agar produk keuangan syariah lebih variatif dengan fitur lebih lengkap. Teknologi juga perlu disesuaikan untuk memudahkan akses ke seluruh masyarakat.

Sehingga keuangan syariah bisa lebih fleksibel dalam hal pelayanan dimana telah di dukung dengan teknologi yang canggih tanpa harus datang ke kantor cabang untuk memperoleh pelayanan perbankan yang lebih variatif dengan fitur lengkap dan tidak memerlukan waktu lama untuk mengaplikasikan di kehidupan sehari-hari.

 

Be the first to comment!
 
Leave a reply »

 

You must log in to post a comment