IKNB Syariah
199 views

Ini Cara Agar Asuransi Syariah Tak Masuk Jurang!

by on 12/06/2017
 

OJK diimbau segera membuat regulasi memadai agar asuransi syariah tumbuh pesat.

Dalam siklus proses adopsi bisnis, asuransi syariah dinilai berada di tahap early adopter dimana perusahaan punya impian yang kuat untuk menggapai perkembangan bisnis yang lebih besar lagi, sehingga mereka melakukan perbaikan dan membuat terobosan baru. Tahap selanjut yang dituju adalah early majority. Namun, di antara keduanya terdapat jurang pemisah (chasm) yang cukup lebar.

Presiden Direktur Karim Business Consulting Adiwarman A Karim menilai industri asuransi syariah Indonesia kini berada di tepi jurang tersebut. Agar asuransi syariah tanah air tak terjerumus ke dalam jurang tersebut, ada dua hal penting yang dapat menjembatani chasm.

“Dua hal itu adalah membangun jembatan antara asuransi syariah dan reasuransi syariah dengan one agent one group of companies, dan jembatan antara institusi asuransi syariah dengan induknya yaitu dengan membangun platform sharing bersama induk,” katanya dalam Karim Awards 2017 Industri Keuangan Non Bank Syariah, Senin (12/6).

Ia menuturkan, jika ketentuan hanya one agent one company, atau satu agen asuransi hanya boleh bekerja di satu perusahaan asuransi, maka hal itu akan mematikan industri asuransi syariah. Pasalnya, asuransi syariah akan harus membangun agensi dari nol.

“Oleh karena itu, kami minta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk membuat suatu regulasi baru yaitu one agent one group of companies. Jadi selama satu grup perusahaan, maka agen asuransi boleh memasarkan asuransi konvensional dan asuransi syariah,” jelas Adiwarman.

Selain itu, lanjut Adiwarman, jika saat ini unit asuransi syariah dipaksa spin off tetapi mereka tidak boleh sharing platform dengan induk juga akan membuat belanja modal perusahaan asuransi syariah yang baru spin off menjadi besar. Hal tersebut akan membuat bisnis asuransi syariah seperti berjalan dari awal.

“Misalnya Reindo Syariah kalau tidak boleh sharing platform yang sama dengan induk, maka Reindo Syariah yang baru spin off akan menanggung belanja modal yang besar. Ini kayak mulai dari nol padahal Reindo Syariah sudah jalan sekian tahun,” ujarnya.

Oleh karena itu, menurut dia, Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) harus mengajukan ke OJK untuk membuat regulasi yang memungkinkan one agent one group of companies dan diperbolehkannya platform sharing dengan induk. “AASI harus minta agar dibolehkan dua regulasi ini, yaitu one agent one group of companies dan diperbolehkan platform sharing dengan induk. Tanpa itu, maka saya kuatir asuransi syariah akan tertahan pada pertumbuhan seperti sekarang saja,” kata Adiwarman.

Be the first to comment!
 
Leave a reply »

 

You must log in to post a comment