Bank Syariah
123 views

BI : Tiga Target Utama Yang Ingin Dicapai Dari Penyelenggaraan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF)

by on 09/11/2017
 

Tiga Target Utama Yang Ingin Dicapai Dari Penyelenggaraan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF)

Bank Indonesia (BI) menggelar acara Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) yang ke-4 pada 7-11 November 2017 di Surabaya yang mengangkat tema ‘Fostering Inclusive Economic Growth and Improving Resiliency Through Closer Collaboration and Coordination’.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan tema ISEF 2017 berkaitan dengan bagaimana mempercepat pengembangan ekonomi dan keuangan syariah tidak hanya untuk mendorong ekonomi di Indonesia maupun global. Melainkan juga bagaimana perkembangan ekonomi bisa secara inklusif sekaligus tahan terhadap berbagai gejolak.

Tema tersebut dinilai sejalan dengan momentum mulai dilakukannya koordinasi secara nasional dalam Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) yang sudah diluncurkan Presiden Joko Widodo pada 27 Juli 2017. KNKS dimaksudkan melakukan koordinasi dan integrasi termasuk akselerasi berbagai program-program pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia.

“ISEF ini meliputi kegiatan dengan 6 (enam) kategori yaitu temu pesantren, temu otoritas, temu penggiat ekonomi syarifah, seminar dan konferensi, riset dan edukasi serta Shari’a Fair. Dan target serta sasaran yang ingin kita capai dari ISEF, dari berbagai rangkaian tersebut sangat berbeda dengan tahun lalu dan ada tiga hal utama,” Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo, saat konferensi pers ISEF hari kedua di Surabaya, Rabu 8 november 2017.

Target pertama adalah BI ingin menemukan cara bagaimana mempercepat dan mengejar ketertinggalan, untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat pengembangan ekonomi dan keuangan syariah pada tahun 2024.

“Jadi kita ingin mempercepat perwujudan Indonesia sebagai pusat pengembangan ekonomi dan keuangan syariah, yang akan didukung oleh pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di berbagai wilayah. Apa wilayah timur, Sumatera dan Jawa. Diantara wilayah itu, mungkin ada satu yang bisa menjadi pusat atau regional champion dalam pengembangan ekonomi syariah,” jelas Perry.

Target kedua adalah memperkuat kolaborasi dan koordinasi berbagai program untuk mempercepat pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.

“Ini harusnya tidak hanya jadi komitmen nasional saja, tapi juga jadi coordinated, and colaborated programme dari berbagai lembaga, kementerian, otoritas, asosiasi sampai penggiat ekonomi, dan kita semua, termasuk pesantren. Jadi ini merupakan kerjasama kolaborasi bersama,” tambah Perry.

Dan Target terakhir yaitu target ketiga adalah mempercepat terwujudnya halal supply chain atau halal economic and finance.

“Itu yang kita ingin capai, dengan demikian, di dalam berbagai kegiatan ISEF ini kegiatan yang mempercepat halal economic and finance itu dilakukan. Tidak hanya pesantren, ada juga halal food, halal fashion, ada juga renewable energy yang dikembangkan dan didukung oleh model bisnis, sementara negara lain yang muslim dan nonmuslim sudah banyak yang mengembangkan halal supply chain tadi,” tegasnya.

Menurut Perry, penyelenggaraan ISEF tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Mulai tahun ini dan ke depan, pengembangan ekonomi dan keuangan syariah didasarkan ada tiga strategi utama. Ketiganya yakni, mempercepat pengembangan ekonomi syariah. Dalam bentuk mempercepat halal supplay chain atau jejaring produksi aktivitas ekononi yang terintegrasi, baik besar, menengah dan kecil termasuk pemberdayaan ekonomi pesantren maupun kelompok usaha lain.

“Indonesia perlu melaksanakan program terbentuknya halal supplay chain jejaring produksi sampai pemasaran, pemenuhan berbagai kebutuhan halal di Indonesia. Karena dalam berbagai kesempatan Indonesia menjadi pasar halal terbesar di dunia apakah makanan, fashion, kosmetik, farmasi dan lain-lain,” kata Perry dalam acara konferensi pers ISEF hari kedua di Surabaya, Rabu 8 november 2017.

Deputi Gubernur BI, Rosmaya Hadi, juga menjelaskan bahwa berdasarkan laporan economic global index, tahun 2014-2017, Indonesia mempunyai potensi yang besar dan masuk sebagai top ten industri syariah. Hal ini juga dimasukkan dalam acara ISEF agar bisa melonjakkan peringkat Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah.

“Mari kita lihat, halal food kita ranking kesatu sebagai market. Tapi untuk islamic finance kita adalah pasar ekspansinya peringkat ke sepuluh, tapi sebagai pelaku ke sepuluh juga, jadi ini sudah oke. Ini tantangan yang harus kita raih adalah jangan jadi pasar terus tapi jadi pelaku. Karena kita sudah banyak sekali mempunyai para ahli di bidang ekonomi syariah ini,” pungkasnya.

Pada ISEF kali ini, BI lebih fokus pada pemberdayaan ekonomi dan kerjasama dengan lembaga lain. Perry menilai, Indonesia tidak akan bisa berhasil mengembangkan sektor keuangannya kalau hanya fokus kepada sektor keuangan. Caranya, pemberdayaan ekonomi harus didorong. BI menampilkan model-model ekonomi pesantren.

“Ini harus dibuat suatu jejaring yang mendukung proses produksi sampai penjualan. Kalau itu sudah besar, bank-bank syariah kita akan gemuk dan besar,” ucapnya.

Be the first to comment!
 
Leave a reply »

 

You must log in to post a comment