Bank Syariah
728 views

Bank Syariah Sedikit Cabangnya

by on 16/10/2015
 

Sulit dipungkiri, bank syariah sedikit cabangnya dinilai masih menjadi penghambat masyarakat untuk berbank syariah.

Tidak menemukan cabang bank syariah di dekat rumah Anda? Begitu juga beberapa blogger yang mengikuti iB Blogger Competition 2015 Periode II. Mereka menuliskannya dalam artikel dan mengikutsertakannya dalam lomba ini.

“Curhatan” para blogger tentang bank syariah sedikit cabangnya ini, ada baiknya dibaca para stakeholder industri perbankan syariah. Mari kita tengok beberapa curhatan di antaranya apa yang dikatakan oleh Ria Mustika Fasha, ibu modern yang suka nge-blog dalam artikelnya berjudul: “Antara Saya, Bank Syariah, dan Masyarakat Desa”. Ria menulis:

“Mertua saya contohnya, yang tinggal di kabupaten paling selatan di Provinsi Bengkulu. Saat saya menceritakan kemudahan saat menabung di Bank syariah beliau sangat tertarik. Namun permasalahannya, di sana belum ada satupun bank syariah yang ada di sana.

Amak ingin sekali menabung di bank syariah, biar harta kita tidak tersentuh riba. Belum lagi kalau orang kecil seperti pedagang dan petani disini kayak amak seringkali diincar oleh rentenir, karena kalau mau pinjam bank sulit. Coba ada bank syariah, pasti sangat membantu” .

Blogger lain, Neti Suriana sepakat dengan anggapan bahwa bank syariah sedikit cabangnya. Neti berkisah dalam artikel: “Saya dan Bank Syariah, Bukan Tidak Cinta”:  “Tinggal di sebuah desa kecil di sudut Provinsi Riau. Begitu sulit menemukan layanan keuangan Syariah. Hingga kini di kota kecamatan yang terletak di pinggir sungai Indragiri ini tidak satu pun bank yang memberikan layanan keuangan syariah. Sehingga dengan terpaksa Aku harus membuka rekening bank konvensional untuk memudahkan transaksi keuangan dengan penerbikan, agensi naskah dan klien untuk proses pembayaran honor dan royalti tulisan”.

Bank syariah yang ada sampai ke daerah, dinilai masih sedikit. Seorang blogger, juga ibu-ibu modern yang tinggal di Lahat, Sumatera Selatan. Bunda Emi dalam “Peer untuk Bank Syariah” mengatakan, “Gimana masyarakat mau cinta dengan produk keuangan syariah, kalo tidak ada pemerataan pelayanan? Bukan cuma masyarakat di kota besar saja yang ingin menikmati pelayanan produk syariah, yang tinggal di daerah juga ingin merasakan hal yang sama. Sudah sosialisasi kurang, bank syariah yang beroperasi di daerah juga sedikit sekali”. Emi yang juga ikut pada lomba blog keuangan syariah periode I ini, lagi-lagi menuliskan kisahnya dengan panjang dan serius.

Hanya, sayangnya Bunda Emi salah memberi tautan (link) dalam kata kunci yang diminta. Sehingga tidak memenuhi persyaratan administratif dan artikelnya harus disisihkan sejak awal. Sayang sekali memang.

Dua Ribu Lawan Delapan Belas Ribu
Dari statistik perbankan syariah terakhir yang diterbitkan oleh OJK, untuk Juni 2015 didapat data bahwa perbankan syariah Indonesia memiliki 2.881 gerai di seluruh Indonesia. Terbesar dimiliki oleh Bank Syariah Mandiri (BSM) dengan 712 gerai. Diikuti oleh Bank Muamalat dengan 449 gerai.

Bandingkan dengan seluruh gerai perbankan nasional yang berjumlah 20.247, termasuk jumlah gerai bank syariah tersebut. Artinya, perbandingannya duaribuan cabang dan delapanbelasan ribuan cabang. Jadi, sulit dipungkiri memang, bank syariah sedikit cabangnya.

Memang masih sedikit cabang bank syariah itu. Misalnya, untuk BCA Syariah saja, yang saudara tuanya BCA terkenal dengan keluasan cabang dan ATM-nya. BCA Syariah baru memiliki 47 kantor cabang hingga Agustus 2015. Baca juga: BCA Syariah Buka Cabang di Yogyakarta

Bank Jabar Banten Syariah (BJBS) malah mengeekspansi ke kota besar dengan membuka cabang di Jakarta Selatan pada awal Oktober. Baca juga: Dongkrak Aset, BJBS Perluas Layanan.

Dilema Perbanyak  Cabang
Tapi, menurut blogger/ peserta iB Blogger Competition 2015 lainnya, Ajeng Karina Sari, dalam artikel berjudul “Hijrah”, menilai perbankan syariah terlalu agresif membuka cabang sehingga melupakan kualitas layanan. Ajeng mengatakan:

“Keinginan Bank Syariah untuk dilihat ‘besar’ oleh masyarakat mendorong Bank Syariah untuk berlomba-lomba membuka cabang sebanyak-banyaknya. Menurut saya, pembukaan cabang yang tidak diikuti dengan perhitungan yang baik tidak akan menghasilkan produktivitas yang baik. Membuka cabang fisik pastinya akan meningkatkan biaya overhead yang mana belum tentu diikuti dengan peningkatan pembiayan dan pengumpulan dana masyarakat yang cukup. Bukankah sebaiknya puasa dulu beberapa saat dalam membuka cabang dan fokus untuk melakukan maintenance sistem informasi untuk meningkatkan layanan e-channel kepada nasabah?”

Ajeng yang juga karyawan di salah satu bank syariah ini menganalisa penyebab tidak cepatnya pertu buhan bank syariah di negeri ini, padahal negeri ini mayoritas penduduknya adalah Muslim. Terlalu agresifnya buka cabang itu menyebabkan kian tidak efektifnya biaya operasional di industri perbankan syariah. “Pengelolaan biaya operasional yang kurang efektif ini juga terlihat dari semakin meningkatnya rasio beban operasional dibandingkan dengan pendapatan operasional dari tahun ke tahun”, kata Ajeng di blognya.

Nah, cabang fisik yang sedikit sejatinya bukan hambatan untuk berkembang. Toh, OJK telah mendorong program laku pandai untuk segera diterapkan oleh perbankan nasional, termasuk bank syariah. Baca juga: Kapan Bank Syariah Luncurkan Laku Pandai?

Details
 
Be the first to comment!
 
Leave a reply »

 

You must log in to post a comment