406 views 0 comments

Kebijakan Moneter Perspektif Islam dalam Mengatasi Inflasi

by on 15/12/2016
 

Salah satu tolak ukur stabilitas moneter adalah laju inflasi pada tingkat yang cukup rendah. Dengan terpeliharanya stabilitas moneter maka akan berpengaruh luas terhadap kegiatan perekonomian, termasuk di antaranya kegiatan di sektor perbankan. Tingkat inflasi yang tinggi menyebabkan suku bunga riil menjadi menurun sehingga dapat mengganggu upaya perbankan dalam mengerahkan dana masyarakat. Hal itu karena hasrat masyarakat untuk menabung berkurang sehingga pertumbuhan dana perbankan yang bersumber dari masyarakat akan menurun. Akibat dari tidak stabilnya tingkat inflasi adalah terciptanya biaya-biaya ekonomi, seperti biaya peminjaman yang lebih tinggi (domestik dan internasional) dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya.

Bila dibandingkan dengan negara-negara berkembang lain yang mengalami tingkat inflasi antara 3% sampai 5% pada periode 2005-2014, Indonesia memiliki rata-rata tingkat inflasi yang lebih tinggi yaitu sekitar 8,5% dalam periode yang sama.

 

Inflasi di Indonesia 2008-2015:

 2008  2009  2010  2011  2012  2013  2014  2015
Inflasi
(perubahan % tahunan)
  9.8   4.8   5.1   5.4   4.3   8.4   8.4   3.4
Target Bank Indonesia
(perubahan % tahunan)
  5.0   4.5   5.0   5.0   4.5   4.5   4.5   4.0

Sumber: Bank Dunia dan Bank Indonesia

Dalam proses terjadinya inflasi, orang biasanya melihat dari apa yang terjadi pada sektor riil, dan menggambarkan apa yang terjadi dengan mengatakan ada permintaan akan barang yang berlebih (excess demand for goods). Orang moneter melihat fenomena yang sama dengan mengatakan ada penawaran uang beredar yang beredar yang berlebih  (excess supply of money). Keduanya benar untuk menggambarkan terjadinya tekanan inflasi, sebagai kenaikan harga barang dan jasa (akibat dari adanya permintaan berlebih) atau penurunan nilai uang (akibat adanya persediaan uang beredar yang berlebih (Djiwandono, 2001).

Secara empiris, kebijakan moneter yang mendorong pada inflasi yang tinggi berdampak negatif pada perekonomian riil dan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang hal ini menyebabkan pasar tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya dan menciptakan ketidakpastian. Oleh sebab itu, kebijakan moneter seharusnya diarahkan untuk menjaga kestabilan harga.

Kestabilan inflasi merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan yang pada akhirnya memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pentingnya pengendalian inflasi didasarkan pada pertimbangan bahwa inflasi yang tinggi dan tidak stabil memberikan dampak negatif kepada kondisi sosial ekonomi masyarakat. Pertama, inflasi yang tinggi akan menyebabkan pendapatan riil masyarakat akan terus turun sehingga standar hidup dari masyarakat turun dan akhirnya menjadikan semua orang, terutama orang miskin, bertambah miskin. Kedua, inflasi yang tidak stabil akan menciptakan ketidakpastian (uncertainty) bagi pelaku ekonomi dalam mengambil keputusan. Pengalaman empiris menunjukkan bahwa inflasi yang tidak stabil akan menyulitkan keputusan masyarakat dalam melakukan konsumsi, investasi, dan produksi, yang pada akhirnya akan menurunkan pertumbuhan ekonomi. Ketiga, tingkat inflasi domestik yang lebih tinggi dibanding dengan tingkat inflasi di negara tetangga menjadikan tingkat bunga domestik riil menjadi tidak kompetitif sehingga dapat memberikan tekanan pada nilai rupiah.[1]

Kebijakan Moneter : Inflation Targeting Framework (ITF)

Bank Indonesia memiliki peran tunggal untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Pada awal tahun 2000 Bank Indonesia mulai mengumumkan target inflasi sebagai sasaran akhir kebijakan moneter yang sering disebut dengan inflation targeting framwork (ITF). Secara umum, ITF dapat diartikan sebagai kerangka kerja kebijakan moneter yang diarahkan untuk mencapai sasaran inflasi beberapa tahun ke depan dan target inflasi tersebut secara eksplisit ditetapkan dan diumumkan kepada masyarakat. Melalui ITF, ekspektasi inflasi masyarakat dan dunia usaha dapat terkendali sehingga akan mengurangi risiko kenaikan harga yang tidak diinginkan. Dengan kondisi tersebut risiko usaha menjadi lebih terkendali sehingga akan mendorong peningkatan kegiatan dunia usaha dan perekonomian secara keseluruhan. Terdapat empat ciri pokok kebijakan moneter dengan ITF, antara lain (Pohan, 2008):

  1. Inflasi merupakan sasaran utama kebijakan moneter. Artinya inflasi merupakan prioritas pencapaian (overriding objective) dan acuan (nominal anchor) bagi kebijakan moneter.
  2. Kebijakan moneter bersifat antisipatif atau forward loooking. Mengingat adanya tenggat waktu dari pengaruh kebijakan moneter terhadap inflasi maka kebijakan moneter yang dilakukan sekarang merupakan langkah yang bersifat antisipatif, bukan reaktif, atas akan terjadinya tekanan inflasi di masa yang akan datang dibandingkan dengan sasaran inflasi yang telah ditetapkan[2].
  3. Kaidah atau kebijakan respons kebijakan moneter. Misal, dalam hal terjadi tekanan inflasi ke depan, Bank Indonesia mau tidak mau harus meningkatkan suku bunga.
  4. Mengacu kepada prinsip tata kelola yang sehat (good governance). Dalam artian harus ada kejelasan tujuan, konsisten, transparan, dan akuntabel.

Penetapan ITF bukan berarti bahwa bank sentral hanya menaruh perhatian pada inflasi saja, tanpa memperhatikan pertumbuhan ekonomi maupun kebijakan dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. ITF bukanlah suatu kaidah yang kaku (rule) tetapi sebagai kerangka kerja menyeluruh (framework) untuk perumusan dan pelaksanaan kebijakan moneter.

 

Teori dan Konsep Inflasi dalam Islam : Pemikiran Al Maqrizi

Harga seekor kambing kelas C (dengan bobot 20-25 kilogram) menjelang Idul Adha tahun 2016 berada pada angka kisaran Rp 1,8 juta sampai Rp 2,2 juta atau setara dengan 1 dinar (1 dinar = Rp 2.055.212 per 14 Desember 2016). Sedangkan, kambing kurban 37 tahun silam yaitu tahun 1979 harga kisarannya Rp 25 ribu sampai Rp 80 ribu, yang mana harga dinar rata-rata tahun 1979 tersebut adalah Rp 26.409. Artinya harga kambing kurban 37 tahun silam tersebut masih berada di kisaran yang sama dengan harga kambing kurban pada tahun 2016 yaitu di sekitar angka 1 dinar. Bila membandingkan harga kambing kurban pada tahun 1979 dengan harga kambing kurban pada tahun 2016, maka harga tahun 2016 mengalami kenaikan antara 56 s/d 80 kalinya. Atau inflasi rata-rata harga kambing per tahun selama 37 tahun terakhir di kisaran angka 11% s/d 15% dalam rupiah. Sedangkan dinar selama 37 tahun terbukti tahan dengan inflasi.

Dinar yang merupakan mata uang yang terdiri dari emas, saat ini telah berubah fungsinya sebagai bentuk investasi dibandingkan sebagai alat tukar. Karena dinar atau emas dapat mempertahankan daya belinya dalam jangka panjang ke depan. Secara historis, penggunaan mata uang dinar dan dirham sudah ada baik pada masa sebelum maupun setelah kedatangan Islam. Al Maqrizi (768-845 H), seorang pemikir ekonomi Islam yang melakukan studi khusus tentang uang dan inflasi, berpendapat bahwa dinar, dirham dan fulus memiliki hubungan relative price satu sama lain. Harga relatif  antara dinar dan dirham adalah 1:24, sementara harga relatif antara dirham dan fulus adalah 1:140. Namun krisis moneter yang telah menerjang Mesir menyebabkan hilangnya dinar dan dirham dari peredaran dan mendorong semua harga melangit. Al Maqrizi mengajukan usul untuk menggunakan sistem moneter alami yaitu dinar dan dirham menjadi mata uang pokok, sedangkan fulus tetap digunakan untuk berbagai transaksi yang berskala kecil.

Sementara itu, walaupun menekankan urgensi penggunaan kembali mata uang yang terdiri dari emas dan perak, Al Maqrizi menyadari bahwa uang bukan merupakan satu-satunya faktor yang mempengaruhi kenaikan harga-harga. Menurutnya, penggunaan mata uang emas dan perak tidak serta merta menghilangkan inflasi dalam perekonomian karena inflasi juga dapat terjadi akibat faktor alam dan tindakan sewenang-wenang dari penguasa. Al Maqrizi mengklasifikasikan inflasi berdasarkan faktor penyebabnya ke dalam dua hal, yaitu inflasi yang disebabkan oleh faktor alamiah dan inflasi yang disebabkan faktor manusia. Inflasi alamiah disebabkan oleh berbagai faktor yang tidak dapat dihindari manusia, seperti gagal panen, kekeringan dan bencana alam. Sedangkan inflasi karena kesalahan manusia disebabkan karena adanya korupsi dan administrasi yang buruk, pajak yang berlebihan, dan peningkatan sirkulasi mata uang atau fulus (Karim, 2010).

Kenaikan harga-harga yang terjadi adalah dalam bentuk jumlah uangnya, bila dalam bentuk dinar jarang sekali terjadi kenaikan. Al Maqrizi mengatakan supaya jumlah uang dibatasi hanya pada tingkat minimal yang dibutuhkan untuk transaksi kecil saja. Kebijakan moneter Islam dalam mengatasi inflasi yaitu dengan digunakannya dinar dan dirham, yang mana mempunyai nilai yang stabil dan dibenarkan oleh Islam. Penggunaan mata uang kerta digunakan terbatas untuk membeli barang-barang remeh. Adhiwarman Karim mengatakan bahwa, Syekh An-Nabhani (2001:147) memberikan beberapa alasan mengapa mata uang yang sesuai itu adalah dengan menggunakan emas. Penurunan nilai dinar atau dirham memang masih mungkin terjadi, yaitu etika nilai emas yang menopang nilai nominal dinar itu mengalami penurunan. Di antaranya akibat ditemukannya emas dalam jumlah yang besar, tapi keadaan ini kecil sekali kemungkinannya.

[1] Bank Indonesia, Pentingnya Kestabilan Harga, http://www.bi.go.id/id/moneter/inflasi/pengenalan/Contents/Default.aspx

[2] Perry Warjiyo dan Solikin, 2003, Kebijakan Moneter di Indonesia, Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan (PPSK), Bank Indonesia.

 

Referensi

 Bank Indonesia. Pentingnya Kestabilan Harga. http://www.bi.go.id/id/moneter/ inflasi/pengenalan/Contents/Default.aspx

Basir, Ikhwan Abidin. 2008. Menguak Pemikiran Ekonomi Ulama Klasik. Solo: AQWAM.

Djiwandono, J. Soedradjat. 2001. Mengelola Bank Indonesia dalam Masa Krisis. Jakarta: LP3ES.

Iqbal, Muhaimin. 2013. SHARIA ECONOMICS 2.0 : Ekonomi Syariah untuk Kita. Jakarta: Republika.

Karim, Adiwarman Azwar. 2006. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam edisi ke-3, PT. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Pohan, Aulia. 2008. Potret Kebijakan Moneter Indonesia: Seberapa Jauh Kebijakan Moneter Mewarnai Perekonomian Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Pohan, Aulia. 2008. Kerangka Kebijakan Moneter dan Implementasinya di Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Warjiyo, Perry dan Solikin. 2003. Kebijakan Moneter di Indonesia. Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan (PPSK), Bank Indonesia.

 Indonesia Investment. 2016. Inflasi di Indonesia (Indeks Harga Konsumen), http://www.indonesia-investments.com/id/keuangan/angka-ekonomi-makro/inflasi-di-indonesia/item254

 


Bagikan!

Atau gunakan shortlink:
Be the first to comment!
 
Leave a reply »

 

You must log in to post a comment