297 views 0 comments

Pentingnya Penguatan Amil Zakat

by on 15/12/2016
 

Zakat merupakan salah satu pilar Islam yang ketiga sebagimana dalam hadits nabi Muhammad SAW :

بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهاَدَةِ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنْ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ وَإِقاَمِ الصَّلاَةِ وَإِيْتاَءِ الزَّكَاةِ وَصَومِ رَمَضَانَ وَحَجِّ البَيْتِ لِمَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيْلأ

Islam dibangun di atas lima perkara: syahadat bahwa tidak ada Rabb yang haq selain Allâh dan bahwa Muhammad adalah utusan Allâh, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan dan haji ke Baitullah bagi siapa yang mampu [Muttafaqun ‘alaihi]

 

Zakat menurut bahasa adalah membersihkan diri atau mensucikan diri. Sedangkan menurut Isltilah, zakat adalah kadar harta tertentu yang wajib dikeluarkan kepada orang-orang yang berhak menerimanya, sebagaimana dalam QS. At-Taubah [9]: 60

 

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

 

Ayat diatas menjelaskan bahwa ada delapan asnaf yang berhak menjadi mustahiq, diantaranya yaitu:

  1. Orang-orang Fakir
  2. Orang-orang Miskin
  3. Amil Zakat
  4. Mu’allaf
  5. Riqab
  6. Ghaarimin ( orang-orang yang berutang)
  7. Fiisabilillah
  8. Ibn Sabil

Adapun cara penghimpunan dan pendistribusian zakat, dilakukan oleh petugas zakat atau amil zakat, sebagaimana dalam QS. At-Taubah [9]: 103

 

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui

 

Indonesia sebagai negara masyoritas Muslim berpotensi dalam meningkatkan penerimaan zakat guna untuk menggulangi kemiskinan yang ada di Indonesia. Namun, penduduk Indonesia menurut perkiraan BPS tahun 2015 sebesar  255,5 juta jiwa dan di tahun 2035 akan mencapai 305,4 juta jiwa. Jika asumsi jumlah muslim Indonesia 83% dari populasi  maka potensi wajib zakat tahun 2015 sebanyak 212 juta jiwa dan di tahun 2035 mencapai 253 juta jiwa. Potensi Zakat di Indonesia berdasarkan PDB tahun 2010 sebesar 217 triliun, dengan metode ekstrapolasi, potensi zakat tahun 2015 adalah 280 triliun, dan realisasinya diperkirakan 4 triliun atau kurang potensi ( Hartono, 2016). Hal ini menjadi masalah yang harus segera diselesaikan.

Rendahnya potensi zakat di Indonesia dipengaruhi beberapa faktor salah satunya karena masih adanya keraguan dan ketidakpercayaan masyarakat kepada lembaga amil zakat. Mereka lebih memilih menyalurkan zakat langsung dari muzakki kepada mustahiq yang jelas dan nampak oleh mereka baik dari penghimpunan dan pendayagunaannya. Akan tetapi praktek penyaluran ini di dalam sejarah Islam tidak ada ditemukan penyaluran zakat dari muzakki langsung kepada mustahiq. Padahal zakat merupakan salah satunya ibadah yang secara eksplisit di dalam Al-Quran ada petugas khusunya. Praktek tersebut bisa jadi merupakan respon masyarakat atas ketidakpercayaan terhadap lembaga amil zakat.

Menghadapi masalah tersebut, pemerintah perlu melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat juga perlu adanya penguatan amil zakat sehingga penghimpunan dan pendayagunaan dana zakat tersalurkan dengan baik, dan transparan serta dapat merubah respon masyarakat menjadi berzakat di lembaga amil zakat

Penguatan amil zakat merupakan salah satu dari lima agenda Nasional yang diutarakan oleh Prof. K.H Didin Hafiduddin dalam Seminar Nasional Zakat pada tanggal 8 Desember 2016. penulis berpendapat bahwa untuk melakukan penguatan amil zakat perlu dilakukan perekrutan petugas yang memiliki kriteria-kriteria tertentu, petugas yang mampu menjadi sahabat spiritual muzakki dan mustahik zakat.

Kriteria-kriteria petugas amil zakat ini dapat mencontoh dan menggunakan beberapa kriteria-kriteria pegawai pajak yang ditulis oleh pemikir ekonomi klasik yaitu Abu Yusuf dalam kitab al-kharaj. Diantara kriteria-kriteria tersebut adalah

  1. Ahli fiqh (hukum Islam),
  2. ‘Alim (berilmu),
  3. Suka bermusyawarah kepada para ahli,
  4. Menjaga harga diri,
  5. Aibnya tidak pernah telihat di depan umum,
  6. Berani membela kebenaran ( tidak takut celaan)
  7. Menjaga hak dan menunaikan amanah dengan mengharap surga,
  8. Semua tugas dilaksanakan karena takut kepada Allah swt, kesaksiannya dapat diterima, tidak berbuat zalim ketika memvonis.

Dalam tataran implementasi Abu Yusuf menjelaskan, hal-hal yang harus menjadi perilaku pengelola ketika berada dilapangan dan menghadapi wajib pajak, para pemungut pajak hendaklah 1) professional dalam bekerja; 2) tidak meremehkan dan menghina para wajib pajak, dan 3) bersikap lemah lembut dan tidak zalim.

Kriteria petugas pajak yang dicatat oleh Abu Yusuf setidaknya dapat dijadikan pedoman dalam pengangkatan petugas amil zakat di Indonesia sebagai bentuk penguatan amil zakat, dan sebagai bentuk pengutan pendayagunaan penghimpunan dan pendayagunaan zakat pada  lembaga amil zakat.

Penguatan amil zakat dapat dilakukan mulai dari tahap perekrutan sumber daya insani hingga tahap pelaksanaan dan pengawasan pelaksanaan pengelolaan zakat. Tahap perekrutan sumber daya insani harus dilakukan secara selektif, transparan dan terhindar dari praktek kecurangan serta memenuhi kriteria. Petugas amil zakat yang terpilih harus memiliki kompetensi yang baik, baik dibidang fiqh zakat, maupun manajemen zakat. Kemudian dalam hal penghimpunan dan pendayagunaan, lembaga amil zakat harus mendayagunkan dana zakat kepada delapan asnaf yang tercantum dalam nash Al-Quran dan bersifat transparan kepada masyarakat.

Dengan demikian, dengan adanya sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, penguatan amil zakat serta penguatan pendayagunaan zakat oleh lembaga amil zakat dimungkinkan potensi zakat di Indonesia akan semakin meningkat, kemiskinan akan berkurang, dan tercapainya kesejahteraan ummat, karena dikelola dengan baik dan professional oleh petugas yang memiliki kompetensi, komitmen, amanah dan jujur sehingga terbentuklah kesadaran dan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga amil zakat .


Bagikan!

Atau gunakan shortlink:
Be the first to comment!
 
Leave a reply »

 

You must log in to post a comment